Sabtu, 13 Juni 2026 Update 14:03 WIB
Portal berita game, gadget, mobile, dan e-sport

GameNews Update

Portal update game, gadget, esport, dan teknologi terbaru

Sorotan Hari IniPortal Gaming Indonesia

Sama-Sama Mahakarya Hiromu Arakawa, Ini 5 Alasan Daemons of the Shadow Realm Bisa Melampaui Fullmetal Alchemist

Sama-Sama Mahakarya Hiromu Arakawa, Ini 5 Alasan Daemons of the Shadow Realm Bisa Melampaui Fullmetal Alchemist
Sama-Sama Mahakarya Hiromu Arakawa, Ini 5 Alasan Daemons of the Shadow Realm Bisa Melampaui Fullmetal Alchemist Sama-Sama Mahakarya Hiromu Arakawa, Ini 5 Alasan Daemons of the Shadow Realm Bisa Melampaui Fullmetal Alchemist Sama-Sama Mahakarya Hiromu Arakawa, Ini 5 Alasan Daemons of the Shadow Realm Bisa Melampaui Fullmetal Alchemist Sama-Sama Mahakarya Hiromu Arakawa, Ini 5 Alasan Daemons of the Shadow Realm Bisa Melampaui Fullmetal Alchemist Sama-Sama Mahakarya Hiromu Arakawa, Ini 5 Alasan Daemons of the Shadow Realm Bisa Melampaui Fullmetal Alchemist Sama-Sama Mahakarya Hiromu Arakawa, Ini 5 Alasan Daemons of the Shadow Realm Bisa Melampaui Fullmetal Alchemist

Susah move on dari petualangan Edward Elric? Hiromu Arakawa kembali lewat Daemons of the Shadow Realm! Simak perbandingannya dan kenapa manga baru ini punya potensi buat ngalahin Fullmetal Alchemist.

Tampilkan SelengkapnyaSembunyikan Artikel

Indogamers.com – Halo para pencinta anime dan manga! Siapa di sini yang masih menganggap Fullmetal Alchemist (FMA) sebagai salah satu manga terbaik sepanjang masa? Wajar banget, petualangan Elric Bersaudara di dunia alkimia memang seikonik itu. Tapi tahu gak, sang mangaka legendaris, Hiromu Arakawa, sebenarnya punya karya terbaru yang gak kalah jenius berjudul Daemons of the Shadow Realm (Yomi no Tsugai).

Meskipun FMA sudah punya reputasi legendaris, manga terbaru ini membawa formula segar yang digadang-gadang punya potensi kuat untuk melampaui pendahulunya. Ceritanya berfokus pada Yuru dan adik kembarnya, Asa, yang terpisah oleh takdir kelam dan harus menguasai makhluk supernatural bernama Tsugai (Daemons).

Biar kamu gak penasaran sesakti apa manga baru ini, berikut adalah daftar 5 alasan mengapa Daemons of the Shadow Realm bisa saja tampil lebih keren dibandingkan Fullmetal Alchemist:

Di FMA, kita mengenal hukum Equivalent Exchange (Pertukaran Setara) yang sangat logis dan berbasis sains-magis. Nah, di Daemons, Arakawa beralih ke tema supernatural mitologi Jepang.

Bedanya: Sistem kekuatan di manga ini berpusat pada Tsugai, makhluk gaib yang selalu berpasangan (seperti Kiri dan Hidari milik Yuru). Karena setiap Tsugai punya wujud dan kemampuan unik yang tak terduga—mulai dari bayangan hidup hingga senjata modern—pertarungannya menjadi jauh lebih dinamis, misterius, dan sulit ditebak dibanding alkimia konvensional.

Kalau FMA butuh beberapa chapter untuk membangun tensi sebelum tragedi Nina Tucker atau kematian Hughes mengguncang emosi kita, Daemons langsung tancap gas sejak babak pertama.

Keunggulannya: Pembaca langsung disuguhi plot twist masif di awal cerita, di mana desa tempat tinggal Yuru yang terlihat damai ternyata menyimpan rahasia gelap yang mengerikan. Arakawa sengaja membolak-balikkan persepsi pembaca tentang siapa yang jahat dan siapa yang baik, bikin kita betah buat terus nge-scroll kelanjutannya.

FMA berpusat pada hubungan Ed dan Al yang saling menyayangi dan punya satu tujuan mutlak yang sama: mengembalikan tubuh mereka. Di Daemons, hubungan persaudaraannya jauh lebih kompleks dan kelam.

Hubungan Yuru dan Asa: Sebagai saudara kembar yang diramal bakal mengubah dunia, mereka terpisahkan oleh konflik berdarah. Asa dibesarkan di dunia modern yang penuh konspirasi, sementara Yuru terisolasi di desa tradisional. Dinamika cinta, rasa bersalah, dan perbedaan pandangan hidup di antara keduanya membuat hubungan kakak-adik ini terasa lebih abu-abu dan menarik untuk diikuti.

Salah satu daya tarik utama dari Daemons of the Shadow Realm adalah latarnya. Arakawa dengan genius menggabungkan estetika desa terpencil yang kuno nan mistis dengan hiruk-pikuk dunia modern lengkap dengan gawai, senapan api, dan mobil. kontras visual dan budaya ini memberikan atmosfer unik yang belum pernah kita rasakan di dunia steampunk ala FMA.

Jangan takut cerita manga ini bakal bikin kamu depresi terus-menerus. Arakawa tidak kehilangan sentuhan emasnya dalam menyelipkan komedi konyol di tengah-tengah situasi serius. Bedanya, transisi antara humor receh dan aksi brutal di manga ini terasa jauh lebih mulus dan matang, menunjukkan perkembangan sang mangaka setelah bertahun-tahun berkarier di industri ini.

Apakah Daemons of the Shadow Realm benar-benar bisa menumbangkan takhta Fullmetal Alchemist? Jawabannya tentu kembali ke selera masing-masing. Tapi satu hal yang pasti: manga ini wajib banget masuk ke dalam daftar bacaan kamu akhir pekan ini!***