Kamis, 20 Agustus 2026 Update 14:55 WIB
Portal berita game, gadget, mobile, dan e-sport

GameNews Update

Portal update game, gadget, esport, dan teknologi terbaru

Sorotan Hari IniPortal Gaming Indonesia

Ekspektasi Setinggi Langit, Realita Bikin Meringis: 6 Game RPG Open-World yang Berakhir Jadi Bencana (FOTO: gamerant)

Ekspektasi Setinggi Langit, Realita Bikin Meringis: 6 Game RPG Open-World yang Berakhir Jadi Bencana (FOTO: gamerant)
Ekspektasi Setinggi Langit, Realita Bikin Meringis: 6 Game RPG Open-World yang Berakhir Jadi Bencana (FOTO: gamerant) Ekspektasi Setinggi Langit, Realita Bikin Meringis: 6 Game RPG Open-World yang Berakhir Jadi Bencana (FOTO: gamerant) Ekspektasi Setinggi Langit, Realita Bikin Meringis: 6 Game RPG Open-World yang Berakhir Jadi Bencana (FOTO: gamerant) Ekspektasi Setinggi Langit, Realita Bikin Meringis: 6 Game RPG Open-World yang Berakhir Jadi Bencana (FOTO: gamerant) Ekspektasi Setinggi Langit, Realita Bikin Meringis: 6 Game RPG Open-World yang Berakhir Jadi Bencana (FOTO: gamerant) Ekspektasi Setinggi Langit, Realita Bikin Meringis: 6 Game RPG Open-World yang Berakhir Jadi Bencana (FOTO: gamerant)

Niat hati ingin petualangan open-world yang epic, 6 game RPG ini justru berujung kegagalan besar akibat masalah teknis hingga tren bisnis yang dipaksakan.

Tampilkan SelengkapnyaSembunyikan Artikel

Indogamers.com - Daya pikat genre RPG open-world terletak pada kombinasi kebebasan menjelajah peta luas serta dalamnya sistem pengembangan karakter. Ketika digarap dengan matang seperti The Witcher 3: Wild Hunt atau The Elder Scrolls V: Skyrim genre ini mampu melahirkan mahakarya yang dikenang sepanjang masa.

Namun, di balik kesuksesan tersebut, tidak sedikit game beranggaran raksasa yang justru berakhir sebagai bencana besar akibat ambisi berlebihan, masalah teknis, hingga paksaan tren live-service.

Berikut adalah 6 game RPG open-world yang dinilai gagal total dan memberi dampak buruk bagi reputasi pengembangnya:

Pengumuman Biomutant pada tahun 2017 sempat memicu antusiasme tinggi berkat konsep dunia junk-punk pasca-apokaliptik yang dihuni hewan antropomorfik berkemampuan bela diri. Sayangnya, hasil akhir garapan Experiment 101 ini mengecewakan. Mekanik pertarungannya terasa ringan tanpa bobot (weightless combat), alur cerita terkesan hambar, serta desain quest sangat repetitif, ditambah gangguan performa saat peluncuran.

Di balik keindahan lanskap visual, atraktifnya sistem sihir, dan kepuasan mekanik parkour magis garapan Square Enix, Forspoken gagal pada fondasi utamanya: narasi dan karakter. Sang protagonis, Frey Holland, justru dijauhi pemain akibat dialog berlebihan yang meniru gaya Marvel Cinematic Universe (MCU). Celotehan garing antara Frey dan gelang ajaibnya, "Cuff", membuat petualangan high-fantasy ini terasa garing dan melelahkan.

Berangkat dari popularitas pertempuran kapal di Assassin's Creed IV: Black Flag, Ubisoft merespons permintaan penggemar dengan Skull and Bones. Namun, game ini justru memangkas cerita menarik, karakter berkarisma, dan latar sejarah khas AC4. Terjebak development hell bertahun-tahun, game open-world ini hadir sebagai proyek live-service dengan skema mikrotransaksi yang agresif dan sistem RPG yang dangkal.

Sebagai game co-op looter-shooter bernuansa RPG open-world, Redfall garapan Arkane Austin tampil sangat mengecewakan. Game bertema vampir ini dirilis dengan kondisi teknis yang buruk, sistem progresi dangkal, serta fitur immersive sim yang sekadar formalitas. Kegagalan tragis game ini bahkan menjadi salah satu faktor pendorong keputusan Microsoft untuk menutup studio pencipta Prey (2017) tersebut pada tahun 2024.

Keputusan BioWare studio legendaris di balik Mass Effect dan Dragon Age untuk beralih ke model live-service penuh mikrotransaksi berbuah kekecewaan besar bagi penggemar. Anthem hadir dengan desain yang dangkal, alur cerita hambar, dan gameplay yang sangat repetitif. Satu-satunya elemen yang dipuji dari game ini hanyalah mekanik terbang baju zirah Javelin.

Starfield mungkin bukan game yang sepenuhnya hancur, melainkan game bernilai rata-rata (7/10). Masalah utamanya terletak pada beban ekspektasi. Bethesda Game Studios yang tengah mengalami penurunan reputasi sejak Fallout 4 dan Fallout 76 sangat membutuhkan mahakarya sekelas Skyrim. Memakan biaya lebih dari $200 juta, Starfield gagal menciptakan dampak budaya yang signifikan dan tidak mampu membangun antusiasme menyongsong The Elder Scrolls 6.

Kegagalan proyek-proyek ini membuktikan bahwa dunia yang luas dan anggaran ratusan juta dolar tidak akan pernah bisa menggantikan pentingnya gameplay yang solid, cerita yang berbobot, serta optimasi teknis yang matang.***