Indogamers.com - Era digital telah mengubah kebiasaan bermain anak, di mana game online kini menjadi alternatif selain permainan fisik tradisional. Namun, Psikolog Klinis dan Keluarga, Pritta Tyas, mengingatkan orang tua untuk lebih bijak membedakan dampak kedua jenis permainan ini terhadap tumbuh kembang anak.
Dalam acara Lego Playground "Main dan Jadi Hebat" di Jakarta, Pritta menekankan bahwa meski teknologi adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan saat ini, paparan game online yang berlebihan pada usia dini memiliki risiko yang perlu diwaspadai.
Aktivitas bermain secara fisik atau hands-on learning memberikan pengalaman belajar langsung yang krusial bagi anak. Menurut Pritta, aktivitas sesederhana menyusun balok dapat memicu perkembangan kemampuan kognitif yang signifikan:
Pemecahan Masalah: Anak belajar mencari solusi alternatif, memahami instruksi, dan memperbaiki kesalahan saat menghadapi tantangan.
Membangun Resiliensi: Proses bermain fisik mengajarkan anak bahwa kegagalan adalah bagian dari proses untuk mencapai tujuan, yang nantinya membentuk karakter tangguh.
Kemampuan Visual Spasial: Melatih keterampilan dasar yang penting bagi profesi masa depan seperti arsitek, desainer, atau bidang kreatif lainnya.
Kreativitas: Memberikan ruang bagi anak untuk mengeksplorasi ide secara bebas tanpa stimulasi instan.
Pritta tidak melarang penggunaan teknologi, namun ia memberikan catatan khusus terkait game online. Menurutnya, stimulasi instan dari game online yang berlebihan dapat memicu kondisi popcorn brain, yakni kondisi ketika otak terbiasa menerima rangsangan cepat terus-menerus, yang berdampak buruk pada fokus dan kualitas tidur anak.
“Menurut saya, anak baru siap itu secepat-cepatnya 15-16 tahun, SMA. Tapi, kan fenomena-nya sangat awal anak bisa dapat akses ke games atau games online,”
Pritta menyarankan orang tua untuk lebih memprioritaskan aktivitas fisik bagi anak usia dini hingga 8 tahun. Fokus utama orang tua seharusnya bukan sekadar membatasi, melainkan mendampingi sesuai dengan tahapan perkembangan anak.
“Peran orangtua bukan membatasi untuk menimbulkan resistensi dari anak, tetapi peran orangtua harus tahu tahapan perkembangan anak saya ada di mana, butuhnya dia digitalnya apa, butuhnya dia hands-on learning-nya apa, dan (orangtua) bisa mendampingi,”
Sebagai komunitas gamer, kita tentu memahami daya tarik dunia digital. Namun, bagi orang tua, penting untuk menyadari bahwa perkembangan otak anak membutuhkan keseimbangan antara stimulasi digital dan aktivitas fisik. Mengarahkan anak pada permainan fisik yang kreatif adalah investasi penting bagi ketangguhan mental mereka di masa depan.
Bagaimana pendapat Sobat Indogamers mengenai batasan usia bermain game ini? Apakah kalian sudah mulai menerapkan pendampingan digital kepada anggota keluarga yang masih kecil? Bagikan pendapat kalian di kolom komentar!